Untuk Info Training, in House Training, Konsultansi, Membangun Sistem (ISPO, ISO Series, OHSAS, SMK3), Kajian, Pendampingan serta Modul untuk Perbaikan dan Peningkatan Kinerja unit di Perusahaan silahkan kirim email alamat berikut: trainingperkebunan@gmail.com

Training and Consultancy


Training

1. Manajemen Produksi Tanaman Kelapa Sawit
2. Kultur Teknis Kelapa Sawit
3.Pengelolaan Hama dan Penyakit Tanaman Kelapa Sawit
4. Peningkatan Kompetensi Teknis dan Manajerial Asisten dan Mandor Tanaman
5.Penerapan dan Kriteria RSPO dan ISPO
6. Sertifikasi Asisten dan Mandor Tanaman
7. Minimalisasi Kehilangan Minyak dan Peningkatan Rendemen Pabrik Kelapa Sawit.
8. Manajemen Pemeliharaan Pabrik Kelapa Sawit Berdasarkan Pengendalian Biaya dan Kehandalan Mesin
9.Pengendalian dan Pemanfaatan Limbah Pabrik Kelapa Sawit
10.Manajemen dan Teknik Pencegahan Kecelakaan Kerja dan Kerusakan Aset Pabrik
11.Pengoperasian dan Pemeliharaan Boiler dan Turbin di Pabrik Kelapa Sawit
12. Manajemen Energi di Pabrik Kelapa Sawit
13. Sertifikasi Asisten dan Mandor Pabrik Kelapa Sawit
14. International Financial Reporting Standards (IFRS) Perusahaan Perkebunan
15.Best Practices Internal Auditing Perusahaan Perkebunan
16.Peningkatan Kompetensi KTU dan ATU Perusahaan Perkebunan.
17.Pengendalian Biaya Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit

Consultancy
1. Technical Assistant for Improvement Palm Plantation and Palm Oil Mill
2. Integrated Solution to Improve Performance of Palm Plantation and Palm Oil Mill
3. Advanced Quality System for Palm Plantation
4. ISO series (9001,14000 etc)
5. OHSAS 18001 dan SMK3
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

MINYAK SAWIT MENTAH/CPO: Harga Kembali Dibuka Melemah 0,53%

>> Rabu, 02 Juli 2014



Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Bursa Malaysia pada pembukaan perdagangan Rabu (2/7/2014) kembali bergerak melemah.
Perdagangan CPO untuk kontrak Juli 2014 di Bursa Malaysia, seperti tercatat di Bloomberg, pada pembukaan perdagangan hari ini berada pada level 2.430 ringgit Malaysia per ton.
Harga tersebut terkoreksi 0,21% dibandingkan dengan penutupan pada Selasa (1/7/2014) yang berakhir di angka 2.435 ringgit/ton dan terkoreksi 0,53%.

Pergerakan Harga CPO
WaktuRinggit Malaysia/TonPersentase Perubahan
2/7 (buka)2.430-0,21%
1/72.435-0,53%
30/62.448-0,81%
27/62.468-0,76%
26/62.487-0,4%
25/62.497+0,24%
24/62.491+0,08%
Sumber: Bloomberg, 2014
Sumber: Bisnis.com

Read more...

MINYAK MENTAH: Harga WTI Merosot ke US$105,34 per Barel

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus turun 94 sen menjadi menetap di US$112,36 per barel di perdagangan London.
Bisnis.com, NEW YORK - Harga minyak dunia turun pada Selasa (Rabu pagi WIB), karena aksi ambil untung dan sedikit berkurangnya kekhawatiran tentang krisis Irak, sementara di AS sebuah badai memicu kekhawatiran tentang permintaan bensin lebih rendah.
Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus merosot 3 sen menjadi berakhir pada US$105,34 per barel di New York Mercantile Exchange.
Pada dasarnya minyak mentah light sweet ditutup datar karena pedagang khawatir bahwa badai tropis di lepas pantai AS bisa menghambat orang-orang berkendara selama tiga hari liburan akhir pekan mendatang.
Minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus turun 94 sen menjadi menetap di US$112,36 per barel di perdagangan London.
Kontrak New York, yang telah memulai sesi perdagangan di wilayah positif, melemah sepanjang hari menjadi berakhir sedikit lebih rendah.
Bob Yawger dari Mizuho Securities mengatakan, pasar sedang memantau Badai Tropis Arthur, badai pertama dari musim badai Atlantik, saat bergerak di pantai Florida menjelang liburan Hari Kemerdekaan pada Jumat (4/5).
Yawger mengatakan ada spekulasi bahwa badai, yang diperkirakan menjadi lebih kuat, bisa bergerak di sepanjang Pantai Timur dan membatasi orang-orang berkendara selama akhir pekan, mengurangi permintaan bensin pada "liburan ekstravaganza" yang semula diperkirakan akan mendorong permintaan.
Pasar keuangan AS akan ditutup pada Jumat.
Pada pagi hari, harga minyak mendapat dorongan dari data manufaktur positif Tiongkok, yang menunjukkan aktivitas meningkat pada Juni dengan kecepatan tertinggi selama tahun ini. Pedagang juga terus mengawasi situasi keamanan di produsen minyak utama Irak.
Kelompok militan Sunni yang telah menguasai wilayah sangat luas di utara Irak pada Minggu mengumumkan kekhalifahan -- atau negara Islam -- di daerah-daerah yang di bawah kontrol mereka, ketika pertempuran terus berlanjut.
Para militan, yang memulai serangan pada bulan lalu, belum langsung mengancam wilayah penghasil minyak utama di bagian selatan Irak.
"Pasar terus menderita dari berlanjutnya aksi ambil untung dan sedikit perkembangan baru di bidang geopolitik, sementara pasokan global dan kapasitas produksi OPEC berada di bawah ancaman langsung untuk saat ini," kata analis VTB Capital Andrey Kryuchenkov.
Kekerasan di Irak memiliki pengaruh langsung pada harga minyak mentah karena negara itu pengekspor minyak terbesar kedua dalam 12 negara anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) setelah Arab Saudi.
Irak memiliki lebih dari 11% sumber daya terbukti dunia dan menghasilkan 3,4 juta barel per hari.

Source : Antara
Editor : Fatkhul Maskur
Sumber : Bisnis.com

Read more...

RI PERTANYAKAN STANDAR GANDA UE SOAL MINYAK SAWIT



BRUSSEL (SIB) Indonesia,melalui wakilnya di Kedutaam RI di BRUSSEL mempertanyakan standar ganda pelaku usaha Eropa terkait minyak sawit. Pertanyaan itu diajukan dalam pertemuan Eropa tentang dampak minyak sawit terhadap kesehatan di BRUSSEL, Rabu (25/6). 
“Delhaize/super indo menjual produk-produk yang mengandung sawit di indonesia dengan kampanye bahwa minyak sawit sehat kaena mengandung betakaroten, vitamin A, dan Vitamen E. Namun di Belgia Delhaize/super indo menjual produk yang menggunakan label ‘no palm oil’ ,”ungkap siaran pers Kedutaan Besar Republik Indonesia Untuk Belgia,Luksembung Dan Uni Eropa. Delhaize adalah perusahaan retail makanan asal eropa yang juga beroperasi di indonesia dengan nama super Indo. 
Lebih jauh di paparkan KBRI, di Uni Eropa, minyak sawit diserang kampanye hitam melalui berbagai isu, mulai dari kesehatan, lingkungan Deforestasi, dalam pelanggaran hak asasi manusia. Kampanye dilakukan atas dasar kepentingan industri pesaing minyak sawit yaitu minyak Rapeseed dan bunga matahari yang merupakan produksi andalan petani di UE yang menjadi pasar utama sawit. 
“ini merupakan proteksionisme hijau yang ingin melindungi petani dan industri dalam Negri UE,” kata KBRI BRUSSEL dalam siaran pers yang dikirim Riaz Saehu, konselor bidang informasi, sosisal, budaya, dan diplomasi, politik.  
Sampai saat ini, industri indonesia telah membayar pajak anti damping untuk ekspor sawit ke UE sebesar 183 juta EURO (sekitar Rp.3 Triliun) sebagai akibat dari permohonan Eropean Biodiesel Board (EBB), asosiasi industri eropa yang sangat berpengaruh.  
Permohonan EBB ini di dukung oleh friends of the eard ( FOE), sebuah LSM lingkungan yang menerima kontribusi dari UE sebesar 751 ribu Euro untuk tahun 2013. FOE juga memiliki wakilnya di indonesia. 
“ironisnya bahwa LSM indonesia bekerja sama LSM dan Industri di UE untuk kepentingan Proteksionisme, “ sesal KBRI Brussel tanpa menyebut lembaga swadaya  masyarakat yang dimaksud.  
Dalam simposium tersebut para pakar nutrisi dan kesehatan di Uni Eropa (UE) menyatakan minyak sawit baik untuk kesehatan manusia karena mengandung Betakaroten, Vitamin A, dan vitamin E. 
“pandangan bahwa konsumsi minyak sawit dapat meningkatkan resiko penyakit jantung dan stroke adalah salah dan menyesatkan,” demikian kesimpulan simposium. 
Sejumlah pakar Eropa dan Hadir antara lain Albert dijkstra, spesialis dibidang pemprosesan minyak goreng; jean geraille spesialis dibidang bio kimia dan teknologi lemak; Guy- Andre Pelouze, spesialis bidang thoracic dan bedah kardiovaskular; Furio Brighenti, Guru besar ilmu makanan dari Universitas Parma, Italia;dan Aseem Malhotra spesialis sibidang Interventional kadiologi dan Craydon Universitas Inggris. Simposium tersebut juga dihadiri oleh seluruh pemangku kepentingan minyak sawit di Eropa, termasuk pemerintahan, LSM dan industri makanan.  

SUMBER : SINAR INDONESIA BARU, SENIN 30 JUNI 2014 HALAMAN 12

Read more...

GAPKI: 2030, Produksi CPO Ditargetkan 60 juta ton

>> Minggu, 28 Juli 2013



JAKARTA (SI) - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menargetkan produksi CPO tumbuh 140% menjadi 60 juta ton pada 2030. Jumlah ini meningkat signifikan dari produksi tahun kemarin yang sebesar 25 juta ton.

Tungkot Sipayung, Ketua Bidang Hukum dan Advokasi GAPKI, mengatakan peningkatan produksi ini dapat tercapai asalkan rata-rata produktivitas Tandan Buah Sawit (TBS) nasional sebesar 35 ton per hektare dan rendemen minyak sawit 26 persen.

"Kemudian luas lahan diperkirakan mencapai 15 juta hektare pada 2030," ujar. Tungkot dalam seminar lokakarya "Solusi dan Alternatif Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia di Jakarta pada Selasa(2/7).
Sampai 2012,  luas lahan sawit nasional sekitar 8,2 juta hektare. Sedangkan, rata-rata produktivitas TBS  nasional berjumlah 22 ton per hektare  dan rendemen 20 persen.Total produksi CPO nasional berjumlah 25 juta ton.
Menurut Tungkot Sipayung, pencanangan visi 35/26 yang digagas GAPKI dan Apkasindo dalam acara 100 tahun industri kelapa sawit di Medan pada 2010. (Qayuum)

sumber: http://sawit-indonesia.com/gapki-2030-produksi-cpo-ditargetkan-60-juta-ton

Read more...

DPR Rancang Aturan Pembatasan Kepemilikan HGU Perkebunan


JAKARTA (SI)- Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sedang menggodok Rancangan Undang-Undang (RUU) Pertanahan yang salah satu pasalnya mengatur pembatasan kepemilikan lahan oleh perusahaan perkebunan untuk tingkat nasional dan provinsi.
Dari informasi yang diperoleh Majalah Sawit Indonesia, tujuan dari RUU ini HGU yang diberikan kepada pelaku usaha akan dibatasi terutama bagi sektor perkebunan, pertanian, budidaya perikanan, tambak, dan peternakan.
Nantinya, kepemilikan Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan tidak boleh melewati angka 100 ribu hektare untuk skala nasional. Sedangkan di tingkat provinsi, perusahan hanya diizinkan mempunyai lahan perkebunan berstatus HGU seluas maksimal 10 ribu hektare, bagi lahan pertanian dan tambak dibatasi 50 hektare.
Keluarnya regulasi ini merujuk kepada amanat Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Nomor 9 Tahun 2001 mengenai Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Pembahasan RUU pertanahan akan dilakukan oleh Komisi II yang membidangi masalah pemerintahan dalam negeri dan otonomi daerah, aparatur negara, kepemiluan, pertanahan, agraria.
Joko Supriyono, Sekjen GAPKI, mengatakan aturan ini bertentangan dengan rencana pemerintah untuk mendorong sektor hilir kelapa sawit karena pembatasan lahan tidak memenuhi skala ekonomi. (Qayuum)

sumber: http://sawit-indonesia.com/dpr-rancang-aturan-pembatasan-kepemilikan-hgu-perkebunan

Read more...

Minyak Sawit Tetap Andalan Indonesia

>> Sabtu, 19 November 2011

KOMPAS/AGUS SUSANTO
Perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan, Rabu (9/11). Indonesia memproduksi 22,7 juta ton minyak sawit mentah (CPO) tahun 2010 dan mengekspor 16,5 juta ton. Produksi CPO tahun 2011 diprediksi mencapai 24 juta ton.

JAKARTA, KOMPAS.com — Managing Director, Head of FoodAgribusiness Research and Advisory-Asia Rabobank International, John Baker, menyebutkan, industri minyak kelapa sawit tetap akan menjadi pemimpin dalam ekspor komoditas pertanian seiring dengan posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia.

"Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar dunia. Produksinya sekitar setengah dari produksi dunia," ujar John dalam seminar "Global Economic Outlook-Implications on Indonesia" di Jakarta, Kamis (17/11/2011).

Pertumbuhan produksi komoditas ini dipacu oleh adanya investasi yang besar dalam penanaman sawit dan proses produksi di seluruh Indonesia selama satu dekade terakhir. Total produksi pada periode 2009/2010 mencapai 22 juta ton. Jumlah itu naik 165 persen dari produksi 2000/2001 sebesar 8,3 juta ton.

Selama rentang tersebut, kata John, produksi tumbuh sebesar 11,4 persen per tahun. Seiring dengan tumbuhnya permintaan minyak sawit dunia sekitar 2,5 juta ton per tahun, Rabobank memperkirakan suplai minyak sawit Indonesia bisa tumbuh 64 persen per tahun.

"Tersedianya lahan yang berlimpah untuk menanam (kelapa sawit) dan biaya buruh yang rendah memberikan biaya yang kompetitif bagi Indonesia. Akhirnya Indonesia bisa menggeser Malaysia sebagai produsen dominan di (komoditias) minyak sawit," kata John.

Apalagi, menurut Institut Penelitian Minyak Sawit Indonesia dan Kementerian Pertanian, pada Desember 2009, pemerintah memperbolehkan konversi lahan mencapai 18 juta hektar untuk ditanam kelapa sawit.

Dengan produksi yang berlimpah, komoditas ini menjadi andalan ekspor pertanian nasional. Ekspor minyak sawit meningkat 14,3 persen per tahun sejak 2001. Nilai ekspor mencapai 13,5 miliar dollar AS pada 2010.

Menurut John, pertumbuhan ekspor ini sebagai dampak dari permintaan minyak sayur yang meningkat. Kondisi politik dan reformasi ekonomi yang stabil juga turut berpengaruh.

Secara garis besar, menurut dia, pemerintah memberikan dukungan yang besar pada industri minyak sawit. Misalnya, investor asing diperbolehkan menyewa lahan penanaman sawit dan aktivitas pengolahan dalam kondisi dan ketentuan yang sama dengan investor lokal. "Sebagai produsen minyak sawit terbesar, Indonesia akan terus melanjutkan posisi sebagai penyuplai kunci ke pasar internasional. Minyak sawit akan terus menjadi pemimpin dalam hal penerimaan di sektor agribisnis," kata John.

Sumber: kompas.com

Read more...

Ini yang Bikin Industri Sawit Susah Berkembang

Shutterstock Pohon kelapa sawit.

BANDUNG, KOMPAS.com - Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk, Santosa, mengungkapkan tantangan terbesar bagi industri kelapa sawit untuk berkembang saat ini adalah anggapan, bahwa kelapa sawit merusak lingkungan.

"Jadi, kalau 5 juta incremental demand itu harus dipenuhi oleh kelapa sawit, maka seluruh dunia itu minimal setiap tahun menanam kelapa sawit satu juta hektar.
-- Santosa"

"Pada saat menanam sama dengan investasi, pasti kan ada minusnya. Gali, tanam, supaya gembur. Sama seperti investasi minus dong, tidak ada orang investasi yang nggak minus. Tapi, 30 tahun ke depan (kelapa sawit) ini akan menyerap Co2 (karbondioksida) dan mengembalikannya dalam bentuk oksigen," ucap Santosa kepada KOMPAS.com usai menghadiri acara workshop wartawan pasar modal, di Bandung, Jumat (18/11/2011).

Menurut dia, industri kelapa sawit terus tumbuh seiring pertumbuhan jumlah penduduk. Hal ini karena minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil) banyak dimanfaatkan, mulai untuk kebutuhan sehari-hari hingga industri. Ia menambahkan, dalam 10 tahun terakhir ini tingkat permintaan kelapa sawit paling rendah 3,5 juta ton per tahun. Atau, rata-rata permintaan sekitar 5 juta ton per tahun dan setiap hektar lahannya menghasilkan kira-kira 5 ton.

"Jadi, kalau 5 juta incremental demand itu harus dipenuhi oleh kelapa sawit, maka seluruh dunia itu minimal setiap tahun (menanam kelapa sawit) satu juta hektar," tambah dia.

Tetapi, terang dia, penanaman tertinggi yang pernah dilakukan di seluruh dunia itu hanya 750 ribu hektar per tahun.

"Jadi, kalau growth penduduk dunia sama dengan 10 tahun terakhir, which is tidak mungkin kan, jumlah jiwa saja sudah 7 miliar (sekarang). Maka, setiap tahun itu di dunia ini harus ada satu juta hektar lahan yang dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit," kata Santosa.

Namun, melakukan konversi lahan kelapa sawit bukan persoalan mudah. Menurut dia, ada permintaan dari negara-negara maju untuk mengubah komoditi dari kelapa sawit ke tanaman lain, seperti rape seed, bunga matahari, dan soy bean. Semata-mata karena anggapan kelapa sawit merusak lingkungan.

"Nggak ada pengganti lain yang seproduktif ini," ucap Santosa.

Ketakutan barat

Ia menuturkan, produktivitas ketiga komoditi pertanian itu hanya 0,5 ton per hektar, atau hanya sepersepuluh dari kelapa sawit. Santosa menuturkan, ada ketakutan dari negara maju jika pelaku industri di Indonesia terus menambah lahan. Karena memang, kata dia, dibutuhkan penambahan sepuluh kali lipat dari yang ada sekarang.

"Itu yang membuat mereka (negara maju) takut," ujarnya.

"Bayangkan, kita hanya menanam 600 ribu hektar. (Dan) pada saat itu, Malaysia hanya menanam 150 ribu hektar, jadi total 750 ribu hektar, dibilang merusak. Padahal, di waktu yang sama, mereka sendiri mengkonversi untuk penanaman kedelai baru 3 juta," ujar Santosa.
sumber: kompas.com

Read more...

Industri Wajib Ikut Standar Sawit Lestari Ala RI

>> Sabtu, 21 Mei 2011


Jakarta - Standar minyak sawit lestari versi Indonesia atau yang biasa disebut Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) akan diwajibkan untuk seluruh pelaku industri sawit di Tanah Air. Rencananya, semua pelaku sawit termasuk industri sawit harus sudah memiliki sertifikasi ISPO paling lambat 2014.

"Ya, sifatnya wajib, tetapi bertahap. Tahun ini uji coba dan proses transisi. Rencananya wajib penuh mulai 2014," kata Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi kepada detikFinance, Rabu (30/3/2011)

Bayu menjelaskan ketentuan sertifikasi ISPO secara prinsip mulai berlaku tahun ini, namun ada proses transisi. Kemudian mulai Maret 2012 menjadi wajib untuk yang sudah siap, dan kemudian pada tahu 2014 wajib untuk semua pelaku sawit.

ISPO dicanangkan oleh pemerintah akhir Maret 2011 ini. Seluruh perkebunan kelapa sawit diharapkan sudah mengantongi sertifikat ISPO di 2014.

Kebijakan pemerintah untuk memberlakukan ISPO sebagai antisipasi perlakukan negara-negara importir minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Pelaku pasar biasanya hanya mau membeli apabila perusahaan eksportir itu sudah memiliki sertifikat RSPO.

Selama ini ketentuan mengenai Standar minyak sawit lestari tertuang dalam Rountable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang disepakati oleh para stakeholder kelapa sawit di internasional.

sumber:http://us.detikfinance.com/read/2011/03/30/154334/1604918/1036/industri-wajib-ikut-standar-sawit-lestari-ala-ri

Read more...

Industri Sawit Minta Tunda Moratorium Hutan



Jakarta - Perusahaan-perusahaan sawit besar yang terhimpun dalam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memprotes Instruksi Presiden (Inpres) No 10 Tahun 2011 tentang moratorium (penundaan) Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut. Gapki mendesak presiden agar melakukan penundaan terhadap keputusan

"Gapki menyayangkan bahwa Inpres ini tidak sepenuhnya mengakomodasi aspirasi dari industri sawit yang merupakan salah satu industri yang strategis dan penting dalam ekonomi Indonesia," kata Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) M Fadhil Hasan dalam keterangan tertulisnya, Minggu (22/5/2011)

Fadhil mengatakan bahwa Inpres ini bersifat diskriminatif karena memberikan pengecualian kepada beberapa aktivitas ekonomi yaitu : geothermal, minyak dan gas bumi, ketenaga listrikan, lahan untuk padi dan tebu. Sementara aktivitas industri lain seperti sawit tertutup kesempatannya dalam berekspansi padahal sektor ini vital dan strategis bagi ekonomi.

Ia juga mengatakan lahirnya inpres ini juga berpotensi konflik dengan peraturan perundang-undangan lain seperti misalnya undang-undang No 41 Tahun 1999 tentang kehutanan. Bahkan dalam inpres ini bertabrakan dengan Keppres No. 32 tahun 1990 maupun Permentan No 14/2009 membolehkan penggunaan lahan gambut dengan kedalaman kurang dari 3 meter.

"Bahwa ketentuan tentang 'peta indikatif penundaan ijin baru' dapat menimbulkan dispute dengan 'RTRW' yang justru akan menimbulkan persoalan baru," ucapnya.

Pihaknya menyayangkan bahwa moratorium itu tidak mengatur pemanfaatan lahan-lahan hutan terdegradasi yang dapat digunakan untuk aktivitas perekonomian. Padahal didalam Letter of Intent (LoI) yang ditandatangani oleh Presiden, selain moratorium pemerintah juga diharuskan untuk mengidentifikasi lahan terdegradasi yang dapat digunakan untuk aktivitas ekonomi.

"Oleh karena itu, Gapki meminta agar pemerintah agar menunda implementasi Inpres ini dan segera mengeluarkan instruksi Presiden tentang pemanfaatan (prosedur) lahan terdegradasi sesuai dengan Letter of Intent (LoI)," katanya.

Seperti diketahui mulai 20 Mei 2011 penerapan moratorium (penundaan) terhadap pemberian izin kawasan hutan alam dan gambut berlaku efektif. Moratorium ini berlaku selama dua tahun kedepan sesuai Instruksi Presiden (Inpres) No 10 Tahun 2011 tentang penundaan pemberian izin baru dan penyempurnaan tata kelola hutan alam dan lahan gambut. Inpres ini berlaku khusus untuk 64,2 juta hektar hutan alam primer dan lahan gambut di Indonesia.

Dalam Inpres itu diatur juga bahwa penundaan pemberian izin baru berlaku untuk hutan alam primer dan lahan gambut yang berada di hutan konservasi, hutan lindung, hutan produksi (hutan produksi terbatas, hutan produksi biasa atau tetap, hutan produksi yang dapat dikonversi) dan area penggunaan lain. Atas Moratorium itu Indonesia mendapatkan komitmen kucuran dana hingga US$ 1 miliar dari Norwegia.

"Dana yang Us$ 30 juta sudah cair dan saat ini sudah ditangan UNDP (United Nation Development Program) sebagai lembaga yang ditunjuk sebagai pengelola dana," jelas Staf Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim Agus Purnomo beberapa waktu lalu.

sumber:http://us.detikfinance.com/read/2011/05/22/122612/1644114/1036/industri-sawit-minta-tunda-moratorium-hutan?f9911013

Read more...

Bea Keluar CPO April Turun Jadi 22,5%

>> Senin, 21 Maret 2011


Foto: Reuters

Jakarta - Bea keluar (BK) produk crude palm oil (CPO) bulan April 2011 ditetapkan 22,5% atau turun dibandingkan BK bulan Maret yang mencapai 25%.

"Harga refrensi CPO untuk bulan April 2011 adalah US$ 1.207.53 per metrik ton, turun dari Harga refrensi bulan Maret sebesar US$ 1,294,53 per metrik ton dengan demikian tarif BK untuk bulan April adalah 22,5%," kata Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh, Selasa (22/3/2011).

Dikatakan Deddy, untuk harga patokan ekspor (HPE) untuk masing-masing produk kelapa sawit dan turunannya antara lain: (per metrik ton)


  • Biji Kernel US$. 799
  • CPO US$ 1.135
  • Crude olein US$ 1.196
  • RBD palm olein US$ 1203
  • RBD PKO US$ 2058
  • CRUDE Stearin US$ 1165
  • CPKO US$ 2096
  • Crude Kernel Olein US$ 2 096 Crude Kernel Stearin US$ 2096
  • RBD Palm Kernel Oil US$ 2149
  • RBd Palm Oil US$ 1200
  • RBD Palm Stearin US$ 1176
  • RBD Palm Kernel Stearin US$ 2423 Biodisel US$ 1255
  • RBD Palm Olein dlm Kemasan bermerek 25Kg US$ 1203

Deddy juga mengatakan harga refrensi komoditi kakao untuk bulan April 2011 sebesar US$ 3515,11 per ton, atau naik dari harga refrensi bulan Maret 2011 yang hanya sebesar US$ 3329.29 per ton.

"Dengan demikian Tarif BK kakao untuk bulan April adalah 15%, dengan HPE US$ 3.203 per ton," katanya.

(hen/qom)
sumber:http://us.detikfinance.com/read/2011/03/22/083022/1598072/4/bea-keluar-cpo-april-turun-jadi-225?f9911023

Read more...

Harga Sawit Bakal Tetap Tinggi di 2011



Foto: dok.detikFinance
Jakarta - Permintaan minyak sawit global di 2011 tetap akan meningkat akibat penurunan produksi minyak kedelai. Namun karena tidak diimbangi dengan produksi yang cukup, harga CPO bakal bertahan di US$ 1.000-1.200/ton.

Demikian disampaikan oleh Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan dalam siaran pers, Senin (24/1/2011).

"Beberapa analis dunia memperkirakan kebutuhan minyak sawit dunia akan bertambah antara 2-3 juta ton pada 2011. Walaupun permintaan naik, diperkirakan suplai minyak sawit tidak dapat mengimbangi permintaan, sehingga harga CPO akan tetap bertahan antara US$ 1.000-1.200/ton sampai semester I-2011," tutur Fadhil.

Meski begitu, Fadhil mengatakan, industri sawit Indonesia mengalami tujuh hambatan utama di 2011. Penambahan produksi minyak sawit dunia diperkirakan mencapai 2,5 juta ton di mana kontribusi produksi CPO Indonesia berkisar antara 1,8-2 juta ton.

Tujuh hambatan tersebut membuat industri sawit akan kesulitan melakukan ekspansi dan atau mengalami penurunan daya saing jika hambatan tersebut tidak dihilangkan.

Hambatan tersebut adalah pertama pelaku sawit menghadapi masalah lahan bagi pengembangan kebun baru yang diakibatkan ketidaktuntasan masalah tata ruang nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP).

"Selain, adanya ketidakpastian hukum terhadap status legalitas lahan. Kondisi ini membuat pemegang konsesi dan investor memilih sikap 'wait and see' yang tentu saja akan berdampak kepada tingkat ekspansi lahan," ujar Fadhil.

Kedua, kebijakan moratorium hutan primer dan lahan gambut malahan dapat mempersulit penuntasan masalah lahan yang sebelumnya telah dihadapkan dengan masalah RTRWP. Dalam pandangan Gapki, Inpres mengenai moratorium akan bertabrakan dengan regulasi lain seperti UU Nomor 41 Tahun 1999 mengenai Kehutanan. Atas dasar itulah, kebijakan moratorium menjadi kontraproduktif bagi pengembangan investasi kelapa sawit.

"Meskipun pemerintah menyediakan lahan terdegradasi seluas 35,2 juta ha tetapi status areal tersebut masih meragukan karena termasuk kawasan hutan," jelas Fadhil.

Ketiga, bea keluar CPO yang tinggi dan bersifat progresif seperti berlaku sekarang ini terbukti tidak maksimal untuk menekan volume ekspor CPO dan belum mampu mendorong pengembangan industri hilir dalam negeri.

Sebaliknya, sistem bea keluar diyakini tidak adil bagi produsen bahan baku baik perkebunan negara/swasta maupun petani rakyat karena 'tidak menikmati' kenaikan margin yang seharusnya didapatkan dari tingginya harga CPO dunia saat ini. Jadi tidak tepat apabila bea keluar dijadikan instrumen utama karena sebenarnya industri hilir lebih membutuhkan insentif yang tepat dan menarik.

Keempat, pengembangan perkebunan kelapa sawit yang mengarah ke Indonesia Timur kurang didukung infrastruktur yang memadai seperti pelabuhan. Semestinya terdapat satu pelabuhan ekspor CPO di Kalimantan untuk memudahkan penjualan CPO ke luar negeri. Dengan pertimbangan, total produksi CPO dari wilayah Kalimantan dan Sulawesi telah mencapai 30% dari produksi nasional.

"Diharapkan pula pembangunan klaster industri segera direalisasikan untuk pengembangan industri hilir kelapa sawit," kata Fadhil.

Kelima, pelaku usaha sawit merasa dirugikan dengan penerapan aturan perpajakan mengenai PPn atas produk primer TBS. Pasalnya, PPn TBS selama ini dibebaskan sehingga pajak masukan atas barang-barang faktor produksi tidak bisa dikreditkan dan menjadi beban tambahan. Akibatnya, menimbulkan pajak berganda (double taxation) kepada perusahaan yang terintegrasi (produksi-pengolahan).

Keenam, kampanye anti-sawit tetap berlangsung bahkan ada kemungkinan semakin kuat tekanan yang diberikan kepada pelaku industri sawit. Tema kampanye anti-sawit masih dikaitkan dengan isu perubahan iklim maupun kerusakan lingkungan secara umum.

Rangkaian kampanye anti-sawit ini akan semakin sistematik yang tidak saja dilakukan oleh NGO saja melainkan oleh group consumer tertentu dan beberapa negara di Uni Eropa, lewat pemberlakukan standar baru dalam perdagangan sawit dan menerapkan aturan yang berbentuk non-tariff barier.

Ketujuh, Indonesia harus melakukan program mitigasi perubahan iklim dengan kekuatan sendiri tanpa melibatkan bantuan asing. Pelibatan dana asing hanya akan membuat Indonesia makin tergantung pada negara lain, sementara dana bantuan asing belum tentu memberikan dampak langsung pada penyerapan tenaga kerja dan pengurangan keniskinan.

Mencermati peningkatan permintaan pasar minyak nabati dunia yang terus meningkat dan melihat bahwa semua minyak nabati dunia melakukan ekspansi produksi, maka minyak sawit Indonesia tidak boleh berhenti ekspansi jika tidak mau kehilangan peluang pasar dan kehilangan momentum membangun perekonomian nasional.

"Oleh karena itu, semestinya pemerintah membuat iklim yang kondusif dengan membuat terobosan kebijakan sebagai upaya mengatasi hambatan yang dihadapi pelaku industri sawit nasional," tukas Fadhil.
(dnl/dnl)
Sumber:http://us.detikfinance.com/read/2011/01/24/214321/1553640/4/harga-sawit-bakal-tetap-tinggi-di-2011

Read more...

Produksi Sawit Dunia Diprediksi Naik 3 Juta Ton di 2011

>> Minggu, 23 Januari 2011

Nusa Dua - Produksi sawit dunia pada tahun 2011 diperkirakan akan meningkat 3-3,1 juta metrik ton meski masih dibayang-bayangi masalah iklim. Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia masih menjadi andalan peningkatan produksi ini.

"Perkiraan saya tahun 2011 produksi dunia tumbuh 3-3,1 juta ton," kata Analis Komoditi Global dari Oil World Thomas Mielke di acara Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) and 2011 Price Outlook di Nusa Dua, Bali, Jumat (3/12/2010).

Mielke menambahkan dari peningkatan produksi itu Indonesia diharapkan bisa menopang tambahan produksi sebanyak 2,1 juta ton. Sementara Malaysia diperkirakan akan menambah produksi sampai 700.000 ton.

Ia mengatakan peningkatan produksi sawit harus bisa terjadi pada tahun depan karena masalah iklim juga melanda pada komoditas sawit lainnya seperti rape oil, minyak bunga matahari termasuk kedelai. Mielke menuturkan hanya ada dua kemugkinan yang terjadi pada 3 komoditas pesaing sawit itu yaitu produksinya turun atau stagnan.

"Permintaanya harus dipenuhi oleh minyak sawit, yang terjadi di Indonesia ini perkembangannya penting," katanya.

Dikatakan Mielke berdasarkan proyeksi Oil World produksi sawit dunia akan mencapai 46,1 juta ton di 2010 atau naik dari tahun 2009 yang hanya 45,1 juta ton. Sementara proyeksi produksi sawit tahun 2015 akan mencapai 62,5 juta ton dan tahun 2020 akan mencapai 76 juta ton di mana Indonesia berkontribusi 40 juta ton dan Malaysia 22,8 juta ton.

Sementara itu Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan faktanya selama 2 tahun terakhir proses ekspansi kebun sawit di Indonesia mulai melambat karena masalah tata ruang. Sehingga berdampak pada produksi sawit Indonesia 3-4 tahun ke depan.

"Saya sih pesimis sampai begitu besar (produksi tambah 2-3 juta ton)," kata Joko.

Sebagai gambaran pentingnya peningkatan produksi pada tahun depan, setidaknya adanya kebutuhan impor minyak sawit China tahun 2011 diprediksi mencapai 6,1 juta metrik ton, angka ini lebih tinggi dari impor tahun ini yang ditaksir mencapai 5,8 juta metrik ton. China menjadi salah satu negara pengimpor terbesar minyak sawit di dunia.

"Konsumsi di China ada tiga, rumah tangga, restoran dan industri termasuk pangan dan kimia misalnya biskuit, mie, lilin, dan sabun," kata peneliti COFCO bidang minyak nabati asal China Jeniffer Yuan di tempat yang sama.

Ia juga mengatakan untuk impor minyak kedelai (soy bean) oleh China pada tahun 2011 akan meningkat dari 1,53 juta metrik ton menjadi 1,61 juta metrik ton di 2011. (hen/dnl)

sumber:http://us.detikfinance.com/read/2010/12/03/160850/1508635/4/produksi-sawit-dunia-diprediksi-naik-3-juta-ton-di-2011

Read more...

Harga Sawit Masih Kinclong di 2011

Jakarta - Harga produk sawit dunia diperkirakan akan masih mengalami kenaikan di tahun 2011. Kenaikan harga masih bisa terjadi hingga 200-300 ringgit dari harga saat ini yang mencapai US$ 1.100 per metrik ton.

"Harga dalam jangka pendek masih akan meningkat. Jika kita melihat harga minyak mentah (fosil) akan meningkat hingga US$ 100 ini akan mengerek minyak nabati akan meningkat terutama sawit dan kedelai," kata Wakil Presiden Konsultan Industri Praktis Frost and Sullivan's Chris De Lavigne di acara Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) and 2011 Price Outlook di Nusa Dua, Bali, Jumat (3/12/2010).

Lavigne menjelaskan bulan Januari dan selanjutnya di 2011 harga sawit dipastikan masih akan meningkat. Namun ia juga memperkirakan akan mulai terjadi penurunan di kuartal II dan kuartal III-2011.

"Memang sangat sulit memberikan prediksi angka di tahun depan. Banyak sekali perkiraan yang terlalu analitik. Dengan kita memberikan prediksi maka mempengaruhi spekulasi," katanya.

Menurutnya semua bisa terjadi pada harga sawit di tahun depan. Bahkan dengan lugas ia mengatakan tak mengagetkan jika harga sawit di tahun depan bisa menyentuh di angka US$ 2.500 per metrik ton dengan berbagai faktor seperti permintaan yang naik, tingkat produksi, iklim termasuk faktor minyak mentah.

Sementara itu Analis Komoditi Global dari Oil World Thomas Mielke memprediksi secara gamblang kenaikan harga sawit dunia di 2011. Ia juga mengatakan soal harga sawit tahun depan akan juga masih dipengaruhi dari kondisi ekonomi global yang terjadi.

"Kita mengharapkan melemah di Desember (2010). Sampai April 2011 harga lebih tinggi. Saya tak tahu berapa karena ketidakpastian cuaca. Mungkin 200-300 ringgit di atas harga sekarang ini," jelas Mielke.

Ia memperkirakan harga sawit pada bulan Januari-Maret 2011 menyentuh pada harga premium. Kemudian lanjut Mielke, puncak harga akan terjadi pada bulan Maret dan April 2011.

"Setelah itu akan terjadi penurunan harga setelah di dua bulan itu," katanya.

Sedangkan Presiden Direktur PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk Ambono Janurianto berpendapat outlook atau pun prediksi harga sawit dunia biasanya hanya berlaku selama satu kuartal saja. Setelah itu biasanya harga sawit sulit ditebak karena ada faktor trader yang cukup mempengaruhi harga.

"Prediksi tahun kemarin saja meleset," katanya.

(hen/dnl)
sumber:http://us.detikfinance.com/read/2010/12/03/170232/1508699/4/harga-sawit-masih-kinclong-di-2011

Read more...

Pajak Ekspor CPO Februari 2011 Bakal Tembus 25%

Jakarta - Bea Keluar (BK) atau pajak ekspor produk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) pada Februari 2011 diperkirakan menyentuh angka 25%. Angka ini jauh lebih besar dari BK Januari 2011 yang hanya 20%.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan mengatakan harga CPO dunia yang terus terus naik membuat BK CPO akan semakin besar.

"HPE rata-ratanya saja diatas US$ 1160 per ton, bea keluarnya bisa 25%. Jadi memang harga CPO semakin tinggi, sampai 25% itu karena progresif," kata Fadhil saat dihubungi detikFinance, Minggu (23/1/2011)

Ia mengatakan pihaknya sudah mengusulkan kepada pemerintah agar BK progresif ini dikaji ulang. Harga CPO dunia yang terus naik membuat pajak ekspor yang dikenakan akan semakin besar. Padahal sejak awal BK progresif ini dirancang untuk stabilisasi harga minyak goreng di dalam negeri.

"Kita sih usul tak bersifat progresif, ini distorsi terhadap industri dan merugikan petani," katanya.

Harga referensi CPO untuk bulan Januari 2011 sebesar US$ 1.184,37 per ton sehingga penetapan BK CPO pada bulan Januari 2011 sebesar 20% naik dari sebelumnya 15% di bulan Desember 2010. BK CPO periode November 2010 masih sebesar 10%. Angka tersebut terus naik dibandingkan September 2010 yang ditetapkan 7,5%

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 223/PMK.011/2008 tentang penetapan barang ekspor yang dikenakan bea keluar dan tarif bea keluar, maka diputuskan bea keluar baru.

Terhadap penetapan dan pengenaan tarif bea keluar terhadap barang ekspor berupa kelapa sawit dan CPO dan produk turunannya, maka berlaku ketentuan:

  • Harga referensi hingga US$ 700 per ton, bea keluarnya adalah 0%
  • Harga referensi US$ 701-750 per ton, bea keluarnya adalah 1,5%
  • Harga referensi US$ 751-800 per ton, bea keluarnya adalah 3%
  • Harga referensi US$ 801-850 per ton, bea keluarnya adalah 4,5%
  • Harga referensi US$ 751-900 per ton, bea keluarnya adalah 6%
  • Harga referensi US$ 901-950 per ton, bea keluarnya adalah 7,5%
  • Harga referensi US$ 951-1.000 per ton, bea keluarnya adalah 10%
  • Harga referensi US$ 1.001-1.050 per ton, bea keluarnya adalah 12,5%
  • Harga referensi US$ 1.051-1.100 per ton, bea keluarnya adalah 15%
  • Harga referensi US$ 1.101-1.150 per ton, bea keluarnya adalah 17,5%
  • Harga referensi US$ 1.151-1.200 per ton, maka bea keluarnya adalah 20%
  • Harga referensi US$ 1.201-1.250 per ton, maka bea keluarnya adalah 22,5%
  • Harga referensi lebih dari atau sama dengan US$ 1.251 per ton, maka bea keluarnya adalah 25%.
(hen/hen)
sumber:http://us.detikfinance.com/read/2011/01/23/160924/1552631/4/pajak-ekspor-cpo-februari-2011-bakal-tembus-25?f9911023

Read more...

Pemerintah Ajak Pengusaha Susun Roadmap Sawit Nasional

>> Senin, 06 Desember 2010


ilustrasi Foto: Koran SI

NUSA DUA - Pemerintah mengajak kalangan pengusaha sawit nasional untuk menyusun roadmap sawit mulai dari sektor hulu hingga hilir. Roadmap dibutuhkan agar perbedaan standar yang diberlakukan oleh lembaga dan nonlembaga internasional, tidak akan merugikan Indonesia.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, apabila dalam penyusunan roadmap sawit tidak melibatkan pihak pemerintah dan pengusaha, maka akan terjadi kesalahpahaman. Pasalnya, kata dia, masing-masing kelompok mempunyai kepentingan yang berbeda.

Menurut Mari, hal tersebut bisa dilihat dari Non-governmental organization (NGO) yang bergerak di environment, mempunyai objektif sustainability dan environment. Sementara, kata dia, pemerintah tentunya mempunyai objektif sustainability dan development.

“Inilah mengapa penting untuk semua stakeholder bertemu. Marilah kita bertemu untuk meluruskan bersama,” kata Mari di acara "6th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) and 2011 Price Outlook” di Nusa Dua, Bali, Jumat (3/11/2010).

sumber:http://economy.okezone.com/read/2010/12/03/320/399953/320/pemerintah-ajak-pengusaha-susun-roadmap-sawit-nasional

Dengan adanya kesepahaman antara pemerintah dan pengusaha sawit nasional, maka, kata Mari, akan lebih mudah untuk mencari solusi.

“Jadi harapan kami kita bisa mengajak semua stakeholder untuk mencari jalan keluar yang win win, dan harus ada waktu. Jangan kita dituntut untuk memenuhi sekarang. Karena cost nya akan terlalu besar. Dan the cost of development, poverty, dan job, yang ingin kita hindari,” ujar Mari.

Selain itu, Mari menuturkan, standar yang diterapkan di setiap negara adalah berbeda-beda.“Dunia bisa saja berkembang. Yang dikhawatirkan oleh kita adalah kalau tidak ada standar yang diterima oleh semua, akan ada standar yang berbeda, standar dalam rangka yang kita mau sustainable atau pengurangan emisi CO². Itu akan meningkatkan cost of doing trade. Dan akhirnya yang rugi adalah consumer. Termasuk kita sebagai negara produsen. Pertama, dia harus bisa memenuhinya. Kedua, akan ada cost yang akan terefleksi dari harga. Ini juga menganggu food security,” papar Mari.

Pemerintah, Mari menambahkan, bertanggung jawab untuk melakukan pembinaan terhadap para petani sawit nasional.

”Pada saat ini 43 pesen lahan sawit dikelola oleh petani rakyat. Pendampingan kepada petani rakyat, sangat penting agar penyelamatan lingkungan tercapai, dan memenuhi kebutuhan pasar sawit internasional,” tandas Mari.

Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joefly J Bahroeny mengatakan, pihaknya mendukung rencana penyusunan roadmap sawit tersebut. “Dengan demikian dapat menjembatani perbedaan kepentingan antara para pemangku kepentingan," kata Joefly.(adn)(Sandra Karina/Koran SI/rhs)

Read more...

Pajak Ekspor Sawit Harus Dihapus

ilustrasi

NUSA DUA - Pemerintah seharusnya bisa mengurangi atau bahkan menghapus pajak ekspor (PE) minyak sawit. Pasalnya, para produsen minyak sawit harus mengeluarkan biaya yang lebih tinggi.

Pengamat Godrej Internasional Limited Dorab E Mistry menjelaskan, pajak ekspor akan menghambat pertumbuhan industri sawit nasional. Dorab mencontohkan, India telah lebih dulu mengapuskan pajak ekspor minyak sawit.

"Pajak ekspor itu sama sekali bukan solusi atas permasalahan sawit di Indonesia," kata Dorab di acara “6th Indonesian Palm Oil Conference and 2011 Price Outlook” di Nusa Dua, Bali, akhir pekan lalu.

Presiden Direktur PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk Ambono Janurianto menyatakan, seharusnya pajak ekspor juga diberlakukan di sektor industri lainnya. Menurut Ambono, pajak ekspor itu juga dirasakan oleh produsen industri sawit yang berskala kecil.

“Yang menikmati perubahan itu bukan hanya industri kelapa sawit yang besar tapi kecil juga. Kita kena pajak ekspor yang lebih tinggi terus. Industri mana yang partisipasi smallholders nya banyak tapi pajak ekspor paling tinggi, tidak ada kecuali kelapa sawit,” jelas Ambono.

Ambono berharap, pajak ekspor tersebut diberlakukan dalam bentuk single tarif. “Kalau bisa, pajak itu single tarif kalau jadi diberlakukan. Pajak itu apakah untuk mendapatkan revenue penerimaan negara atau subsidi, Kalau untuk subsidi, single tarif tidak ada masalah. Industri lain tidak ada yang diperlakukan seperti ini, sementara industri paling besar kontribusinya yaitu sawit. Jadi ini tidak ada fairness” papar Ambono.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan meminta pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan tersebut karena akan mengurangi daya saing industri sawit nasional. "Pada Desember tahun ini, pajak ekspor sawit sudah sebesar 15 persen," kata Fadhil.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menjelaskan, pemerintah masih mengkaji pajak ekspor minyak sawit.

"Kita sedang membahas dibawah koordinasi kantor Menko Perekonomian. Kita jangan membahas itu terlepas dari keseluruhan objektif kita mengenai sustainability, hilirisasi, kepastian investment, dan lain sebagainya. Ini harus dilihat dari peta roadmap. Kita belum bisa menyampaikan. Ada beberapa usulan yang harus kita analisa dengan baik,” kata Mari.(adn)(Sandra Karina/Koran SI/rhs)

sumber:http://economy.okezone.com/read/2010/12/06/320/400430/pajak-ekspor-sawit-harus-dihapus

Read more...

Menghitung Margin Bisnis Sawit

>> Selasa, 02 November 2010


Dikutip Oleh : Kevin Elfrianto
OLEH IRVIN AVRIANO A. dan YENI H. SIMANJUNTAK
Sumber, Bisnis Indonesia, 3 Nopember 2010. Industri perkebunan sawit menjadi salah satu bisnis incaran pemodal. Tingginya margin keuntungan mengalahkan isu negatif soal lingkungan yang membuntuti bisnis ini. Di sektor inilah, PT BW Plantation Tbk memanen keuntungan.

Executive Chairman PT BW Plantation Tbk Tjipto Widodo, yang ditemui bebera pa waktu lalu, bah kan menyebutkan penurunan harga produk minyak sawit mentah (CPO) sekalipun tidak akan membuat pelaku usaha di sektor itu menjadi gigit jari. “Harga jual CPO memang bisa naik, bisa turun. Namun, profit margin-nya masih terlalu tinggi,“ katanya.

Berangan-angan untuk 4 tahun ke depan, Tjipto yakin bisnis perusahaan yang dimiliki oleh keluarganya itu akan terus melaju dan bisa mencetak kapitalisasi pasar hingga US$1 miliar. Keyakinan itu pulalah yang membuat keluarganya tidak akan melepas perusahaan itu kepada sembarangan pemodal yang hanya tertarik pada keuntungan jangka pendek.

Lewat PT BW Investindo, PT Mitra Energi Global, dan PT Wahana Platinum, keluarga Widodo menguasai sekitar 30,72% saham BW Plantation. Adapun, sebanyak 38,89% saham BW Plantation dimiliki oleh Fendalton Investments Pte Ltd, perusahaan pengelola dana dari Eropa.

Optimisme terhadap industri sawit itulah yang membuat Sekretaris Perusahaan BW Plantation Kelik Irwantono yakin laba bersih perseroan pada tahun ini bisa melampaui pencapaian tahun lalu Rp167,46 miliar.

Hingga akhir kuartal III/2010, BW Plantation membukukan produksi tandan buah segar (TBS) sebanyak 270.563 ton, naik 3,31% dibandingkan dengan produksi pada periode yang sama tahun lalu 261.881 ton. “Angka produksi kami masih bisa meningkat, curah hujan tidak terlalu berpengaruh bagi produksi kami,” ujarnya.

Namun, fakta yang tercetak di laporan keuangan perseroan sepanjang 9 bulan pertama tahun ini justru sebaliknya. Pendapatan usaha BW Plantation turun menjadi Rp418,49 miliar dibandingkan dengan Rp449,97 miliar pada periode Januari-September tahun lalu. Laba bersih perseroan juga terpangkas menjadi Rp142,23 miliar dibandingkan dengan Rp151,61 miliar.

Akan tetapi, seperti yang telah disebutkan Tjipto, margin keuntungan tetap tinggi yakni 33,98%. Dana hasil penerbitan obligasi sebesar Rp700 miliar juga akan menjadi amunisi baru bagi perseroan untuk memperbesar bisnisnya. Tjipto menyebutkan perseroan menargetkan tambahan lahan seluas 54.000 hektare hingga pertengahan tahun depan, sehingga total lahan naik menjadi 150.000 hektare.

Efisiensi biaya Analis PT BNI Securities Deo Rawendra, dalam risetnya 13 Oktober lalu, menyebutkan penggunaan traktor mini yang bersenjatakan scissors lift gandeng membuat perseroan dapat menghemat waktu, memangkas penggunaan truk, dan tentunya berujung pada efisiensi biaya.

Dia juga mengatakan penggunaan bibit hibrida unggul oleh emiten merupakan satu nilai tambah bagi perseroan. Bibit mutakhir itu diperkirakan mampu menghemat waktu produktif menghasilkan sawit dari normalnya 36 bulan menjadi 30 bulan.

Sementara itu, analis PT Danareksa Sekuritas Evi Fidiasari menyoroti keunggulan perseroan dalam efisiensi lahan penanaman dengan banyaknya tanaman dalam 1 hektare sebanyak 148 pohon dari rerata industri yang hanya sebanyak 136 pohon.

Dari pemanfaatan yang maksimal itu, dia memprediksi perseroan mampu menjual CPO senilai Rp622 miliar pada akhir tahun ini dan menjadi Rp827 miliar pada tahun depan, penjualan kernel sawit sebesar Rp50 miliar tahun ini dan sebesar Rp67 miliar pada tahun depan.

Analis PT Kim Eng Securities Ricardo Silaen juga menyoroti hasil panen dan produksi TBS seiring dengan optimisme perseroan terhadap pencapaian target produksi sebesar 380.000 ton pada akhir tahun ini. “Dengan 100% eksposur pada CPO, perusahaan akan menjadi penerima manfaat utama dari peningkatan harga CPO yang sudah tinggi.“

Meskipun memiliki potensi besar, lanjut Ricardo, harga saham emiten dengan kode saham BWPT itu hampir mencapai nilai wajarnya dan hanya menetapkan target harga referensi pada level Rp970, dengan potensial penguatan hanya sebesar 1%. Dia juga menyematkan rekomendasi hold untuk saham itu.

Namun, sejumlah analis lain memberikan penilaian berbeda. PT CIMB Securities Indonesia masih mengganjar rekomendasi outperform pada saham itu dengan target harga Rp1.520 dan Danareksa Sekuritas dengan buy dan target harga Rp1.050. Pada perdagangan kemarin, harga saham BW Plantation ditutup turun 0,99% ke level Rp1.000.

sumber:http://www.rni.co.id/media.php?module=detailberita&id=1543

Read more...

Harga CPO Melambung


Dikutip Oleh : Kevin Elfrianto
Sumber, Bisnis Indonesia, 3 Nopember 2010. JAKARTA: Harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) naik ke level tertinggi dalam 2 tahun terakhir dipicu oleh turunnya persediaan minyak nabati global ke level terendah dalam 17 tahun. Spekulasi pemerintah AS yang akan menurunkan proyeksi produksi pada bulan ini ikut mendongkrak harga.

Harga CPO naik 105 poin menjadi Rp8.940 per kilo gram untuk kontrak pengiriman Januari 2011, kontrak teraktif yang diperdagangkan di Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI). Di Bursa Malaysia Derivatives, harga juga naik 34 poin atau 1,1% menjadi RM 3.095 (US$1.000) per ton, level tertinggi sejak 28 Juli 2008.

Departemen Pertanian AS mencatat persediaan minyak kedelai dan CPO turun 12% pada tahun depan dipicu oleh naiknya konsumsi di China dan India sebesar 11%. Di sisi lain, produksi minyak kedelai diprediksi turun, sehingga akan mengangkat harga minyak kedelai dan CPO.

sumber:http://www.rni.co.id/media.php?module=detailberita&id=1545

Read more...

HARGA TBS Kelapa Sawit Produksi Petani Sumut

>> Rabu, 18 Agustus 2010

Medan (SIB)
Berdasarkan hasil rapat Kelompok Kerja Teknis Tim Rumus Harga TBS Kelapa Sawit Produksi Petani Provinsi Sumut 11 Agustus 2010 di Aula Dinas Perkebunan Provinsi Sumut Jalan Willem Iskandar No 9 A Medan, mengenai harga TBS dan Faktor “K” yang didasarkan pada harga yang diperoleh dari Pusat Pemasaran Kelapa Sawit PT. Perkebunan Nusantara, GAPKI dan harga pasar yaitu:
1. Rata-rata Harga CPO Lokal dan Ekspor: Rp 7.204,20 (Tidak termasuk PPN)
Rata-rata Harga Kernel Lokal : Rp 3.788,30 (Tidak termasuk PPN)
2. Faktor K adalah : 85,70%.
Maka dengan ini di peroleh harga TBS kelapa sawit produksi petani Propinsi Sumatera Utara sebagai berikut :

Umur Rdm Harga Rendemen Harga Harga
Tanaman CPO CPO Kernel Kernel TBS
3 Tahun 15.62 7.204,20 3.60 3.788,30 1.081,26
4 Tahun 17.50 7.204,20 4.05 3.788,30 1.211,94
5 Tahun 18.75 7.204,20 4.35 3.788,30 1.298,85
6 Tahun 19.25 7.204,20 4.50 3.788,30 1.334,59
7 Tahun 20.00 7.204,20 4.60 3.788,30 1.384,14
8 Tahun 20.62 7.204,20 4.80 3.788,30 1.428,91
9 Tahun 21.25 7.204,20 5.00 3.788,30 1.474,30
10 Tahun 21.87 7.204,20 5.10 3.788,30 1.515,83
Harga TBS di atas berlaku untuk periode tanggal 11 s/d 17 Agustus 2010. (Rel/d)Harga Rata-rata Beberapa Komoditas Perkebunan
No Nama Satuan Harga (RP)
1. Biji Kopi Kering
- Arabika Kg 28.550,-
- Robusta Kg 23.650,-
2. Kakao Kg 22.000,-
3. Karet
- Lump Mangkok Kg 23.850,-
4. Cengkeh Kg 47.200,-
5. Pala Kg 40.100,-
6. Lada Kg 44.600,-
7. Kemiri Kg 14.700,-

NB. Sumber Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara. Harga Pasar Minggu II Tanggal 11 Agustus 2010. (Rel/d)

sumber:http://hariansib.com/?p=135406

Read more...

Komisi III Dinilai Intervensi Kasus Pabrik Kelapa Sawit

Jakarta, CyberNews. Komisi III DPR dinilai telah menekan dan mengintervensi penanganan kasus pabrik pengolahan kelapa sawit yang melibatkan PT Delimunda Perkasa (DMP) dengan PT Tunas Lestari Sentosa (TLS).

Kuasa hukum PT DMP, Sheila Salomo menyayangkan adanya intervensi tersebut, karena Komisi III justru balik menuding PT DMP yang menekan pihak Polda Jambi dalam penanganan kasus tersebut. "Saya mendengar ada beberapa anggota Komisi III yang menekan Kapolda untuk segera menyelesaikan kasus ini tanpa harus takut adanya intervensi dari Mabes Polri," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (8/8).

Oleh karena itu, dia mempertanyakan keseriusan dan independensi polisi dalam menangani kasus ini. Apalagi, salah seorang saksi pelapor dalam kasus ini terbukti merupakan penyidik dan anggota kepolisian. "Kok ada, saksi dari penyidik polisi," ungkap Sheila.

Selain itu, dia juga menduga bahwa beberapa anggota Komisi III telah mempolitisir hal ini dengan membawa nama Sardan Marboen yang merupakan staf ahli presiden. "Ini jelas politis sekali, Pak Sardan itu hanya komisaris saja di perusahaan kami. Itu pun jauh sebelum ada kasus ini," imbuhnya.

Terpisah, anggota Komisi III, Herman Herry membantah ada anggota Komisi III yang telah menekan dan mengintervensi kasus tersebut. Menurut dia, anggota Komisi III hanya merasa tidak puas dengan hasil kinerja Polda saat kunker dan menegaskan kepada Kapolda untuk serius menangani kasus ini. "Ini sudah menjadi modus bagi pengusaha untuk merampok uang negara dengan alasan investasi. Maka, hal ini harus dihentikan dimulai dengan penyelesaian kasus ini,” tegasnya.

( Wisnu Wijanarko /CN14 )

sumber:http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/08/08/61892/Komisi-III-Dinilai-Intervensi-Kasus-Pabrik-Kelapa-Sawit

Read more...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Back to TOP